Ayonius: “Mungkin berita-berita di medsos agak dikurangi sedikit”

Asisten II Setkab Kubar yang juga Ketua Rumpun Asa, Ayonius, meminta warga menjaga kondusifitas dengan tidak menyebarkan berita di medsos untuk menghindari konflik antara penolak dan yang menerima kehadiran PT Kencana Wilsa. SUNARDI/KABARKUBAR.COM

BARONG TONGKOK – KABARKUBAR.COM
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kutai Barat, Ali Sadikin, berjanji akan membentuk tim terpadu. Tim yang berisi lintas instansi tersebut akan meninjau ke lokasi pertambangan batubara PT Kencana Wilsa atau KW yang ditolak masyarakat. Pernyataan itu sebagai respon atas aksi unjuk rasa yang dilakukan perwakilan empat kampung yang disebut masuk konsesi perusahaan.

“Kami menerima saran dan masukan dari bapak-ibu. Sudah kami sepakati, setelah 17 Agustus akan meninjau ke lapangan,” ujarnya saat menemui sekitar 50 pendemo yang berunjuk rasa di halaman Kantor Dinas LH Kubar pada Jumat, 14 Agustus 2020.



Ali Sadikin menjelaskan, Tim Terpadu akan diisi lintas instansi. Selain Dinas LH, akan ada kemudian perizinan, tata ruang, dan bidang ekonomi. Akan berkoordinasi dengan Asisten II Sekretariat Kabupaten Kubar, Ayonius, yang membawahi pihak terkait.

“Beliau atasan kami, sehingga harus berkoordinasi dengannya. Jangan khawatir, beliau (Ayonius) juga tokoh dari Rumpun Asa. Hal-hal yang dikhawatirkan sudah menjadi catatan kami. Mohon dukungannya, setelah tanggal 17 kita bentuk tim terpadu ke lapangan,” tegasnya.

Tolak Tambang di Gunung Layung, Perwakilan 4 Kampung Rumpun Asa Demo Kantor Dinas Lingkungan Hidup

“Tolong jaga situasi kondusif, jangan sampai setelah ini ada tindakan melanggar hukum. Mudah-mudahan ada titik temu ke depan. Mari kita dialog dengan baik,” ujar Ayonius yang juga Ketua Rumpun Asa.

Ayonius mengatakan, berbicara masalah, banyak dampak yang dihadapi. Sehingga perlu banyak diskusi. Tim terpadu disepakati juga diisi Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, serta sejumlah instansi pemerintah lainnya.

Aksi unjuk rasa perwakilan empat kampung di kawasan Gunung Layung, menolak penambangan daerah yang menjadi sumber kehidupan masyarakat setempat. SUNARDI/KABARKUBAR.COM

Ia berharap, pendemo menjaga lingkungan di Rumpun Asa. Jangan sampai terjadi hal tidak diinginkan. “Kita persuasif saja. Mungkin berita-berita di medsos agak dikurangi sedikit,” katanya di hadapan pengunjuk rasa yang didampingi Kapolsek Barong Tongkok, Iptu Irianto, dan KBO Satuan Intelijen dan Keamanan Polres Kubar, Ipda Suyoto.

“Tanpa kita sadari, itu (berita di medsos) juga memicu. Jangan sampai di antara keluarga kita terjadi gap (jarak), posisi ini di antara yang menerima dan menolak. Peran kita jangan sampai membuat berita-berita yang bisa membuat kegaduhan di kawasan Asa,” pesan Ayonius.

Agus Herawan, pengusaha muda yang membuka pertanian moderen di kawasan Gunung Layung, menyerahkan surat tuntutan kepada Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kutai Barat, Ali Sadikin. SUNARDI/KABARKUBAR.COM

Aksi unjuk rasa dimulai sekitar pukul 09.15 Wita. Diikuti perwakilan Kampung Ongko Asa, Pepas Asa, Geleo Asa dan Geleo Baru dalam wilayah Kecamatan Barong Tongkok. Di bawah Forum Sempekat Peduli Gunung Layung yang dipimpin Korneles Detang selaku Koordinator Aksi.

Menurut Korneles Detang, aksi unjuk rasa ini juga menindaklanjuti hasil Rapat Dengar Pendapat atau Hearing di DPRD Kubar pada Rabu, 22 Juli 2020. Kemudian, kunjungan Anggota DPRD Kubar pada Kamis, 6 Agustus 2020 ke Kampung Geleo Asa.

“Hari ini kami selaku masyarakat, ingin menyampaikan aspirasi kepada Pemkab Kubar. Bahwa kami menolak adanya pertambangan di Gunung Layung. Bukankah, Dinas Lingkungan Hidup sendiri sudah menyatakan bahwa Amdal (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) perusahaan belum terbit?” tegasnya.

Tidak Mau Hutan Rusak, Warga Ongko Asa Tolak Tambang di Gunung Layung

“Ini aksi damai yang tujuannya menyerahkan surat ke kadis DLH untuk peninjauan atau cek lapangan kegiatan KW,” imbuh Korneles Detang.

Tidak berselang lama saat memulai aksi unjuk rasa, lima perwakilan warga diterima Kadis LH Kubar yang didampingi Ayonius dan Wakil Kapolres Kubar Komisaris Polisi Sukarman. Mereka adalah Korneles Detang, Markus Masi, Renaldo, Martidin, dan Tere.



Sementara perwakilan pendemo berdialog di ruangan, aksi unjuk rasa berlanjut dengan orasi yang disampaikan Agus Herawan, dan Rinayati. Orasi berbeda ditampilkan Daniel, seorang mahasiswa yang kuliah dibiayai dari hasil pertanian keluarganya di Gunung Layung.

“Kami menolak dan meminta stop kegiatan tambang di Gunung Layung. Kami makan dari hasil pertanian padi, jagung dan lain-lain. Bukan dari tambang batubara,” teriak Agus Herawan, pengusaha muda asal Ongko Asa. Lulusan Universitas Advent Indonesia ini membuka usaha pertanian moderen dengan menggunakan alat mesin pertanian canggih di Gunung Layung. #Sunardi

Comments

comments

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here