Hits: 3

Sikapi Kekhawatiran Pelanggan Dengan Ikuti Protokol Kesehatan

Ekhy Makmun menjemput rejeki mendatangi pelanggan yang minta pangkas rambut di rumahnya. LILIS SARI/KABARKUBAR.COM

BARONG TONGKOK – KABARKUBAR.COM
Pandemi yang melanda dunia hingga Kabupaten Kutai Barat, membuat dunia usaha terguncang. Hal sama dialami para pelaku usaha pangkas rambut dan perawatan kecantikan atau salon. Omset yang jauh menurun, disikapi dengan saling mendukung oleh komunitas waria yang tergabung dalam Kerukunan Waria Kutai Barat atau KWKB.

Ketua Kerukunan Waria Kabupaten Kutai Barat, Ekhy Makmun, mengakui setiap waria yang tergabung dalam komunitas saling memberi dukungan. Untuk menutupi kekurangan satu sama lain. Khususnya dalam upaya bertahan di tengah wabah Corona Virus Disease 2019 atau Covid-19. “Kami saling berbagi pekerjaan, saling support. Kalau ada yang punya job, kita bagi. Jadi semua dapat, merasakan dan bisa hidup, gitu,” kata waria pemilik usaha ‘Ekhy Bridal & Salon’ ini.



Menurut Ekhy, seluruh anggota KWKB cukup trampil. Sehingga dalam situasi sesulit apapun, mereka tetap bisa eksis bertahan. Termasuk di tengah kondisi ekonomi yang melemah akibat Covid-19 seperti sekarang ini. Untuk bertahan hidup, mereka harus pintar menyiasati dengan menambah keterampilan yang diperlukan. “Contohnya saya, cuma bisa bikin kue, jualan kue, jualan makanan-makanan jadi, gitu,” jelasnya.

Soal kekhawatiran jika harus memangkas rambut ke salon, Ekhy tegas menyatakan seluruh anggota komunitas tetap mengutamakan protokol kesehatan dalam melayani. Pelanggan diwajibkan mengenakan masker. Juga harus menyuci tangan sebelum masuk salon, dan disemprot cairan disinfektan.

Tidak hanya pangkas rambut, Ekhy Salon & Bridal juga menjadi tempat perawatan kecantikan terpercaya di Kubar. LILIS SARI/KABARKUBAR.COM

Saat ini, diakui bukan keuntungan semata yang dicari. Tapi bagaimana menjamin keamanan bagi sesama. Baik pelanggan maupun pelaku usaha kreatif itu, agar terhindar dari penularan Covid-19. “Kami yang bekerja juga seperti itu. Pakai masker, sarung tangan, dan alat kami selalu disemprot pakai alkohol. Jadi, saya berani menjamin potong rambut ke salon saya di tengah pandemi ini, Isha Allah aman,” ujarnya.

Sebagai jenis usaha mikro, kecil dan menengah, salon juga terdampak Covid-19. Khawatir akan terpapar virus corona, banyak orang jadi enggan memangkas rambut menggunakan pelaku salon. Sepinya pelanggan terasa dari sisi jasa pangkas rambut, rias pengantin hingga dekorasi gedung. Akibatnya, berdampak pula pada penghasilan.

“Beruntung, komunitas waria  jadi wadah untuk saling berbagi, mencari solusi bersama teman-teman seprofesinya. Tiap masalah yang dihadapi bisa diatasi,” ungkap Muhammad Akbar, karyawan Salon ‘Abel’ di Kecamatan Barong Tongkok.



Waria biasa disapa Abel mengatakan, sebelum pandemi Covid-19 bisa berpenghasilan hingga Rp500 ribu perhari hanya untuk jasa pangkas rambut. Namun beberapa bulan belakangan, hanya di kisaran Rp100 ribu sampai Rp150 ribu perhari. 000/hari.

“Itu masih dibagi tiga antara pemilik usaha, kebutuhan salon dan karyawan. Untuk karyawan dampaknya terasa betul. Misalnya sehari kami dapat Rp100 ribu, kan dibagi tiga lagi. Nah dari pembagian itu kita cuma dapat Rp33 ribu, sisanya untuk bos sama bahan di salon,” ujarnya pada Selasa, 7 Juli 2020. #Lilis Sari

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here