Hits: 24

Konedi: “Kalau air bersih memang cukup, untuk apa warga beli air bersih ke saya”

Petinggi Penarung, Konedi, menunjukkan air yang tidak mampu mengalir ke tandon, hanya bisa mengaliri wadah rendah, dan alirannya cukup kecil bahkan macet di musim kemarau. SONNY LEE HUTAGALUNG/KABARKUBAR.COM

BENTIAN BESAR – KABARKUBAR.COM
Masyarakat Kampung Penarung di Kecamatan Bentian Besar dikabarkan kesulitan air bersih. Salah satunya diduga akibat aktivitas pertambangan batubara yang mencemari Sungai Lawa dan salah satu anak sungainya, yakni Sungai Tunau. Lalu bagaimana kondisi sebenarnya?

Menurut External Relation PT Trubaindo Coal Mining atau TCM, Kristinawati, warga Penarung sudah memiliki sarana air bersih yang dibangun oleh TCM. Pemerintah daerah juga telah memberikan fasilitas yang sama. Sehingga warga tidak lagi menggunakan air dari sungai.

Kalau setahu saya, warga memang sudah nggak menggunakan air sungai sih pak. Karena sudah ada sarana air bersih yang sudah dibuat sama TCM, dan juga ada pemerintah sejak tahun 2013. Jadi memang sudah lama,” katanya media pesan WhatsApp pada Sabtu, 26 Juni 2021.

Syahrunsah, warga RT 2 Kampung Penarung, membenarkan TCM telah menyediakan sarana air bersih bagi mereka. Hanya saja, bukan untuk dikonsumsi. “Dari Banpu (TCM), hanya untuk mencuci dan mandi. Kalau mau diminum, harus dijernihkan dulu dalam gentong, dimalamkan atau pakai tawas,” jelasnya kepada KabarKubar.

Pria yang akrab disapa Kakek Abe ini mengakui, tahun 2019 lalu ada anggaran senilai Rp200 juta dari TCM. Lalu Rp50 juta dari nilai itu digunakan untuk membeli tiga unit tandon berkapasitas masing-masing 5.500 liter.

Sahrunsah alias Kakek Abe menunjukkan lokasi sarana air bersih yang diadakan PT Trubaindo Coal Mining dengan sumber air dari anak Sungai Masap. SONNY LEE HUTAGALUNG/KABARKUBAR.COM

“Kami dikasih Banpu Rp200 juta. Rp50 juta kami beli tandon tiga, bikin tempatnya, dan beli pipa. Sedangkan Rp150 juta lainnya, bukan kami yang kelola,” ungkapnya seraya menunjukkan tandon dimaksud, yang berada sekitar 200 meter dari Kantor Kepala Kampung atau Petinggi Penarung.

Ia melanjutkan, awal tahun ada proyek sarana air bersih dari pemerintah kampung. Kualitas airnya sangat baik, jernih, layak dikonsumsi, bahkan bisa langsung diminum. Hanya saja, hanya sekitar sebulan air yang bersumber dari anak Sungai Masap itu mengalir ke rumah-rumah warga.

“Jalan sekitar sebulan. Setelah pasang meteran, langsung tidak jalan. Kami tanya, katanya duitnya habis, tunggu tahun depan,” katanya, dan menunjukkan meteran air berwarna biru miliknya yang menunjukkan angka 00001 meter kubik.

Baca juga:

Sungai Tunau Diduga Tercemar Limbah TCM, Warga Penarung Kesulitan Air Bersih

Kakek Abe menambahkan, tahun 2019 juga ada proyek air bersih dengan mengadakan sumur bor untuk sumber airnya. Air ditampung dalam lima tandon berkapasitas masing-masing 1.200 liter. Informasi diterimanya, jasa sumur bor didatangkan dari Kota Samarinda.

“Dulu katanya air ditarik ke tandon, lalu warga tinggal ambil. Tapi itu pun tidak jalan. Kalau saya ada sumur bor sendiri. Saya upah orang cari sumber airnya, lalu gali sendiri sedalam dua meter sudah dapat air. Kalau sumur yang itu, katanya dalamnya 75 meter,” pungkasnya.

Jalem yang pernah menjadi Petinggi Penarung di periode 2008-2015, menyebut warga terpaksa masih memanfaatkan Sungai Lawa untuk keperluan sehari-hari selain untuk dikonsumsi. SONNY LEE HUTAGALUNG/KABARKUBAR.COM

“Kalau semua kami gunakan air ini, tidak cukup. Harus pesan (beli) air minum,” ungkap Jalem, yang pernah menjabat Kepala Kampung atau Petinggi Penarung di periode 2008-2015. Ia mengaku bantuan sarana air bersih dari TCM diadakan saat kepemimpinannya.

Terpisah, Konedi sebagai Petinggi Penarung, mengakui ada sarana air bersih dari TCM. “Tapi hanya mengalir sewaktu-waktu. Apalagi musim kemarau, sama sekali tidak jalan. Dulu setelah dibangun, malah macet sampai empat tahun. Yang dari pemerintah, juga tidak jalan,” ujarnya memulai perbincangan.

Sambil mengajak KabarKubar ke tepi Sungai Lawa di bagian hulu perkampungan, ia menegaskan jika sebagian warga masih harus turun ke rakit atau jamban di sungai itu. Sebab, air bersih bantuan TCM tidak cukup untuk 135 Kepala Keluarga dengan hampir 500 jiwa penduduk.

“Tidak semua orang gunakan air dari Sungai Masap, karena tersendat-sendat alirannya. Sering masyakarat kelahi (bertengkar), karena (distribusi) air tidak maksimal. Maka yang tinggal di dalam (perkampungan) tinggal sekitar 90 KK. Sudah ada 30 KK pindah ke jalan poros,” katanya.

Konedi baru menjabat Petinggi Penarung sejak dilantik pada Senin, 5 April 2021, mengakui ia mendapat keuntungan dari kelangkaan air bersih tersebut. Sebab ia sudah empat tahun berjualan air bersih kepada warga Penarung dan Kampung Dilang Puti.

“Dulu memang jalan air dari banpu, tapi tidak layak minum. Kalau air bersih memang cukup, untuk apa warga beli air bersih ke saya. Sebulan sekali setidaknya tiap rumah beli satu tandon isi 1.000 liter, harganya Rp200 ribu, alami dari mata air di Gunung Lantung. Jadi khusus untuk air minum,” jelasnya.

Meski berisiko kehilangan keuntungan dari berjualan air bersih, Konedi berharap kelangkaan air bersih di kampungnya dapat diatasi oleh para pihak terkait. SONNY LEE HUTAGALUNG/KABARKUBAR.COM

Pria yang mengaku pernah 20 tahun bekerja di perusahaan pertambangan batubara ini, menyebut tahu perlakuan perusahaan kepada masyarakat dan lingkungan. Sehingga dugaan pencemaran Sungai Tunau yang menjadi salah satu sumber air bersih, dilaporkan kepada Bupati Kutai Barat.

“Sabtu (26 Juni 2021), ada tim dari perusahaan datang tanya soal air. Kenapa baru sekarang tanya? Bertahun-tahun kami sulit air bersih. Sebagai penjual air saya senang saja dapat untung. Tapi sekarang saya pemimpin, kasihan saya kepada warga. Apa daya mereka harus beli air,” katanya.

“Kami ini kebagian penyakitnya saja. Dulu pernah ikan-ikan mati di sungai, tapi waktu itu kita tidak ada kamera. Memang CSR (community social responsibility) jalan, tapi tidak tepat sasaran. Kita tidak tahu yang mana saja bantuan Banpu, mana dari pemerintah, karena tidak ada plang proyeknya,” imbuh Konedi.

Diberitakan sebelumnya, air Sungai Tunau di Kampung Penarung, tidak dapat lagi dimanfaatkan warga setempat. Jangankan dikonsumsi, untuk mandi saja sudah harus berpikir panjang. Masyarakat mengeluhkan buruknya kualitas air itu muncul sejak ada aktivitas perusahaan pertambangan batubara di sekitar aliran Sungai Tunau. Yakni TCM, anak perusahaan PT Indo Tambangraya Megah Tbk atau ITM Group.

“Sekarang kami harus jauh mencari air bersih. Bahkan harus beli. Kalau pakai air Sungai Tunau, sudah tidak bisa, keruh dan gatal kalau mandi,” kata Petinggi Penarung, Konedi pada Rabu, 23 Juni 2021. Ia meminta para pihak terkait bersikap. #Sonny Lee Hutagalung

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here