Hits: 0

Gastritis dan Ispa Jadi Penyakit Terbanyak di Derita Warga Kubar

Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Barat gencar melakukan kegiatan untuk mencegah berkembang biaknya Nyamuk Aedes Aaegypti. ISTIMEWA/KABARKUBAR.COM

BARONG TONGKOK – KABARKUBAR.COM
Meski tidak masuk dalam daftar 10 penyakit terbanyak di derita masyarakat, penyakit Demam Berdarah atau DBD dan Malaria tidak boleh disepelekan. Untuk itu Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Barat melakukan berbagai upaya pencegahan penyebaran atau timbulnya kedua penyakit tersebut. Terutama dalam mencegah perkembangbiakan Nyamuk Aedes Aaegypti, serangga yang dapat membawa virus Dengue, penyebab penyakit DBD.



Untuk diketahui, tercatat 10 penyakit terbanyak di derita masyarakat Kubar yang direkam sejak Januari hingga Juli 2018. Yakni :

  1. Gastritis 4.052 pasien
  2. Nasoparingitis Akuta (Common Cold) Ispa 2.837 pasien
  3. Hipertensi Primer 2.516 pasien
  4. Influenza 1.854 pasien
  5. Non Insulin Dependen DM 1.181 pasien
  6. Myalgia 1.110 pasien
  7. Hipertensi Sekunder 976 pasien
  8. Pharingritis 861 pasien
  9. Arthritis tidak spesifik 755 pasien, dan
  10. Demam 726 pasien.

Kepala Diskes Kubar, Aliman, melalui Kepala Bidang Pencegahan Dan Pengendalian Penyakit,  Veronika Yulia menjelaskan, telah memberi imbauan kepada masyarakat. Untuk mengantisipasi atau pencegahan kasus DBD dengan cara PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) dengan 3M Plus. Imbauan itu disampaikan melalui surat resmi yang ditujukan kepada seluruh Pimpinan Puskesmas untuk diteruskan ke masyarakat.

Salah satu kegiatan Fogging yang dilakukan oleh Ketua RT 9 Kelurahan Melak Ilir Kecamatan Melak, untuk mencegah perkembangbiakan nyamuk pembawa virus Dengue yang menyebabkan penyakit Demam Berdarah atau DBD. GRUP KELUHAN & SARAN WARGA KUBAR & KALTIM/KABARKUBAR.COM

Selanjutnya, dilakukan pemeriksaan jentik berkala oleh masing-masing Puskesmas melalui penyuluhan tentang pencegahan dan penanganan penularan DBD. Salah satunya dengan cara fogging fokus atau pengasapan. “juga pemberdayaan masyarakat untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan,” ucap Veronika Yulia, di ruang kerjanya baru-baru ini.



Wanita akrab disapa Yulia ini menerangkan, soal anggaran untuk pencegahan kasus Malaria bersumber dari APBD, APBN dan bantuan luar negeri (Global Fund). Upaya pencegahan kasus Malaria dengan melakukan promosi kesehatan, dan pemeriksaan darah untuk penduduk yang beresiko tertular Malaria. Misalnya pemeriksaan kepada ibu hamil.

Diskes juga melakukan pemeriksaan massal pada daerah endemis Malaria dengan cara Mass Blood Survey.  Yakni suatu kegiatan penemuan penderita dalam waktu yang singkat. Dilakukan melalui pemeriksaan sediaan darah terhadap semua penduduk di desa atau dusun endemis malaria tinggi. Yang penduduknya tidak menunjukkan gejala malaria yang nyata. “Ada juga pembagian kelambu beresiksida secara selektif dan massal pada daerah endemis Malaria, serta penanganan kasus Malaria sesuai standar,” kata Yulia. #Lilis Sari/Advertorial

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here