Bermerek Gulas Yang Diakui Lebih Berkualitas oleh Konsumen Luar Daerah

Ketua Tim Pelaksana Inovasi Desa Kecamatan Mook Manaar Bulatn, Rusdiana, menujukkan produk gula bubuk yang dihasilkan dari inovasi warga Kampung Sakaq Tada. LILIS SARI/KABARKUBAR.COM

BARONG TONGKOK – KABARKUBAR.COM
Melalui acara Program Bursa Inovasi Desa 2018, Tim Pelaksana Inovasi Desa (TPID) Kecamatan Mook Manaar Bulatn menampilkan kewirausahaan masyarakat. Berupa Gula Bubuk dengan lima jenis atau varian. Yaitu Gula Semut, Jahe Merah, Kunyit, Kunyit Mangga dan Gula Kunyit Putih dengan khasiat bagi kesehatan. Semuanya diproduksi warga Kampung Sakaq Tada, yang selama ini dikenal sebagai sentra gula merah di Kubar.

Menurut Ketua TPID Mook Manaar Bulatn, Rusdiana, program pembuatan gula bubuk itu juga untuk pengembangan kewirausahaan yang berujung peningkatan ekonomo masyarakat. Gula yang diproduksi itu dijual dengan harga eceran. Gula Semut dipasarkan Rp50.000 perkilogram, dan empat jenis lainnya seharga Rp100 ribu perkilogram.

Proses pembuatan gula bubuk yang salah satunya dengan pegeringan memanfaatkan sinar matahari. LILIS SARI/KABARKUBAR.COM

“Gula Bubuk sudah dikenal hingga Australia dan Singapura, hanya saja terkendali pada perizinan. Makanya belum bisa dipasarkan ke luar negeri,” tukasnya di sela Bursa Inovasi Desa di GOR Desnan, Kamis 22 November 2018 lalu.



Dijelaskannya, gula bubuk yang dikemas dengan merek Gulas tersebut sering dipasarkan dalam Pameran dalam wilayah Kabupaten Kutai Barat. Ada juga dijual di Bandara Melalan, Kantor CU Daya Lestari di Melak dan Barong Tongkok, juga di Gereja GPPS Kelurahan Simpang Raya. Pemesanan dari pelanggan dalam sebulan mencapai 85 kilogram.

Rusdiana mengatakan, jika kegiatan kewirausahaan seperti membuat Gula Bubuk berkembang, otomatis akan membuka lapangan kerja dan meningkatkan penghasilan petani. “Gula bubuk diproduksi dan dikelola 10 warga Kampung Sakaq Tada. Jika pemesanan sedikit, hanya tiga orang yang menangani,” ungkap Rusdiana kepada KabarKubar.

Bupati Kutai Barat, FX Yapan, bersama Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung Kubar, Faustinus Syaidirahman, melihat produk gula bubuk yang diproduksi warga Kampung Sakaq Tada Kecamatan Mook Manaar Bulatn. ARSIP/KABARKUBAR.COM

Ditanya soal proses pembuatan gula bubuk, Rusdiana mengakui tidak sesulit dibayangkan. Yakni dengan memilah gula yang baik, lalu mengambil jahe dan kunyit yang sudah dibersihkan dan diambil sarinya. Selanjutnya dicampur dengan di-blender untuk dimasak. Setelah itu dikeringkan, dan jika terik matahari hanya butuh sehari penjemuran. “Kendalanya, belum ada listrik di Mook Manaar Bulatn. Makanya pengolah di Kampung Sakaq Tada hanya memakai genset (mesin pembangkit listrik),” ucapnya.

Terakhir, Rusdiana menerangkan, proses pengerjaan gula bubuk lebih mudah dibandingkan gula padat yang harganya juga lebih murah. “jika gula bubuk adalah gula pilihan. Jadi jika jelek kualitasnya tidak akan jadi. Konsumen dari luar daerah mengakui Gula Kalimantan jauh lebih bagus, enak dan asli,” pungkasnya.



Menanggapinya, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung Kubar, Faustinus Syaidirahman, berterimakasih kepada masyarakat yang telah berinovasi. Program dari Pemerintah Pusat melalui Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi itu juga demi peningkatan kesejahteraan rakyat. “Kita berharap kampung-kampung lainnya juga berinovasi, untuk meningkatkan taraf ekonomi warga. Agar hari esok lebih daripada hari ini,” katanya. #Lilis Sari/Advertorial

Ads

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here