Hits: 19

Masuk Ring 1, Banyak Perusahaan Bisa Membantu Pembangunan

Megah dan indahnya Lou Bentian, menjadi lokasi pilihan untuk mengabadikan momen oleh masyarakat. ISTIMEWA/KABARKUBAR.COM

BENTIAN BESAR – KABARKUBAR.COM
Rumah panjang yang disebut Lamin sebagai salah satu budaya suku Dayak. Juga merupakan jati diri bagi masyarakat adat sejumlah sub suku Dayak di Kabupaten Kutai Barat, Provinsi Kalimantan Timur. Satu lamin yang berdiri megah, adalah Lou Bentian di Kampung Dilang Puti, Kecamatan Bentian Besar. Dibiayai perusahaan pertambangan batubara PT Trubaindo Coal Mining atau TCM senilai Rp7 miliar lebih.

Saat meresmikannya pada Jumat, 25 Juni 2021, Bupati Kutai Barat, FX Yapan, mengungkapkan keinginan sejumlah tokoh adat yang diutarakan kepadanya. Khususnya dari Dayak Benuaq, yang tergolong salah satu komunitas terbesar di Kubar.

Selama pembangunan sejak tahun 2013, megahnya Lou Bentian sudah menjadi ‘buah bibir’ di penjuru Kubar. “Ini beban moral saya, sangat berat. Orang Benuaq menghadap saya, kenapa TCM bangun di Bentian saja. Padahal ring 1 ada di Benuaq,” katanya saat sambutan.

Tidak lupa secara pribadi dan pemerintah, Yapan berterimakasih kepada TCM yang sudah berkontribusi membangun ornamen adat tersebut. Namun, Bupati Kubar sejak tahun 2016 ini mengaku terbeban dengan curahan hati para tokoh adat Benuaq.

“Saya bilang sabar, dan belajar ke Bentian, bagaimana berbicara dengan TCM. Menghadap pak Lorensius, pak Ampeng, pak Abed Nego,” ungkapnya.

Lou Bentian diserahkan oleh Manajemen PT Trubaindo Coal Mining kepada tokoh masyarakat ada Bentian. ISTIMEWA/KABARKUBAR.COM

Bupati mengakui kecemburuan sosial itu muncul bukan tanpa alasan. “Karena mereka Ring 1 (berada di daerah operasional) tambang. Saya minta mereka menghadap Bharinto (PT Bharinto Ekatama),” katanya.

“Saya bicarakan dengan pak wakil (Wakil Bupati Kubar, H Edyanto Arkan), ini beban berat buat saya. Bharinto juga perlu bangun Lamin. Di Benangin, Kalteng, juga minta karena Ring 1. Malah mau demo kalau tidak terealisasi,” pungkas Yapan.

Sejumlah tokoh memaklumi jika muncul keinginan pembangunan Lamin Benuaq di wilayah komunitas Dayak Benuaq. Yakni Kecamatan Damai, Kecamatan Muara Lawa, Kecamatan Nyuatan, Kecamatan Jempang dan Kecamatan Bongan. Kendati telah berdiri Lamin Benuaq bersama lima lamin lainnya di Taman Budaya Sendawar.

Ketua Sempekat Tonyooi Benuaq Kabupaten Kutai Barat, Roni Patinasrani, mengaku mendengar langsung ungkapan bupati terkait lamin tersebut. Menurutnya, wajar ada kecemburuan sosial. Banyak tokoh menganggap perlu juga dibangun Lamin Benuaq di luar yang ada di TBS. “Termasuk di dataran Tunjung, tentu ada pemikiran yang sama,” ujarnya.

Roni Patinasrani menambahkan, tokoh Benuaq bisa memohon bantuan kepada para pihak. Sebab tidak ada anggaran khusus untuk itu jika berharap dari pemerintah daerah. Meski bisa membantu, tidak maksimal, apalagi jika semua ditanggung pemerintah.

ehsh . Kemegahan Lou Bentian menjadi kebanggaan tersendiri oleh komunitas Dayak Bentian yang berasal dari sembilan kampung di Kecamatan Bentian Besar. ISTIMEWA/KABARKUBAR.COM 

Disebutkannya, dataran Benuaq masuk Ring 1 wilayah operasional sejumlah perusahaan pertambangan batubara dan perkebunan sawit. Misalnya PT Gunung Bara Utama, PT Teguh Sinar Abadi, PT Firman Ketaun Perkasa, PT Thiess Indonesia, dan PT Pamapersada Nusantara. Pemerintah bisa diminta bantuan melobi perusahaan tersebut untuk memberikan anggaran pembangunan lamin.

“Dari dataran Benuaq bisa menghadap GBU, TSA, FKP. Tinggal bagaimana berkreatifitas, dan berinovasi saja. Perusahaan A untuk tiang, perusahaan B tukang ukir, perusahaan C untuk atap, dan sebagainya. Bisa seperti itu,”  terangnya.

Seperti diketahui, Lou Bentian berdiri megah berukuran 50 x 25 meter dengan ketinggian 8 meter. Ditopang 371 tiang kayu ulin, Lou Bentian didanai senilai Rp7 miliar lebih dari program Community Social Responsibility PT TCM.

jshsnm . Gotong royong para wanita Dayak Bentian sebelum peresmian oleh Bupati Kutai Barat pada Jumat, 25 Juni 2021. ISTIMEWA/KABARKUBAR.COM 

Bagian bawah ada 369 tiang penyangga lamin. Yang terdiri dari 14 tiang di tiap baris dari kiri ke kanan, dan sembilan tiang di jajaran bagian depan ke belakang. Kemudian ada dua tiang tepat di depan lamin, yang nantinya menyangga bangunan teras. Sedangkan di lantai utama, ada puluhan tiang yang merupakan rangkaian tiang dari bagian bawah.

“Ada sekitar 2 meter dari tiap tiang yang ditanam ke dalam tanah. Jadi pondasi cukup kokoh, dan akan lebih kuat lagi nantinya, karena dicor dengan pondasi cakar ayam. Jadi berapapun warga adat yang masuk ke dalam lamin, tidak kuatir akan roboh. Apalagi tiang dan lantai bangunan adalah jenis ulin,” jelas Lorensius, Ketua Kerukunan Keluarga Dayak Bentian yang juga Ketua Panitia Pembangunan Lou Bentian.

Sebagaimana rencana awal, Lou Bentian memiliki sembilan kamar yang mewakili sembilan kampung Dayak Bentian. Yaitu Penarung, Dilang Puti, Suakong, Jelmu Sibak, Sambung, Randa Empas, Tende, Anan Jaya dan Tukuq. Dilengkapi juga tiga kamar untuk kepala adat kecamatan dan ruang balai pertemuan. # Sonny Lee Hutagalung

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here