Hits: 43

Dinas Lingkungan Hidup Bawa Sampel Air ke Laboratorium di Samarinda

Anggota DPRD Kabupaten Kutai Barat, Mahyudin, saat melihat langsung kondisi air Sungai Tunau. ISTIMEWA/KABARKUBAR.COM

BENTIAN BESAR – KABARKUBAR.COM
Sungai Tunau di Kampung Penarung, Kecamatan Bentian Besar, Kabupaten Kutai Barat, sudah tidak dapat lagi dimanfaatkan warga setempat. Jangankan dikonsumsi, untuk mandi saja sudah harus berpikir panjang. Masyarakat meminta para pihak terkait untuk bersikap.

Keluhan warga disampaikan Kepala Kampung atau Petinggi Penarung, Konedi. Ia menyebut, keluhan buruknya kualitas air itu muncul sejak ada aktivitas perusahaan pertambangan batubara di sekitar aliran Sungai Tunau. Yakni PT Trubaindo Coal Mining atau TCM, anak perusahaan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITM Group).

“Sekarang kami harus jauh mencari air bersih. Bahkan harus beli. Kalau pakai air Sungai Tunau, sudah tidak bisa, keruh dan gatal kalau mandi,” katanya melalui sambungan telepon pada Rabu, 23 Juni 2021.

Menurut Mahyudin selaku Tokoh Masyarakat Kecamatan Bentian Besar, warga Penarung telah menyampaikan keluhan itu kepadanya. Sebagai seorang yang diberi amanat rakyat menjadi Anggota DPRD Kubar, ia pun telah menindaklanjuti ke pihak terkait.

Rabu, 26 Mei 2021, ia turun ke lokasi bersama Dinas Lingkungan Hidup Kubar. Turut juga sejumlah staf manajemen TCM untuk mengecek laporan yang disampaikan Petinggi Penarung soal adanya dugaan pencemaran.

“Ternyata kami lihat benar ada dugaan seperti itu (pencemaran lingkungan). Sempat saya tanyakan kepada kepala dinas, dinyatakan memang benar itu tidak sesuai SOP (Standart Operating Procedure),” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya, Gedung DPRD Kubar pagi ini.

Pemeriksaan lapangan bersama tiga pihak ke Sungai Tunau pada Rabu, 26 Mei 2021. ISTIMEWA/KABARKUBAR.COM

Pria yang akrab disapa Eman ini menjelaskan, pencemaran tersebut telah lama dikeluhkan warga. Tidak hanya oleh warga Kampung Penarung, tapi juga warga kampung lainnya yang terimbas. Sebab Sungai Tunau mengalir ke Sungai Lawa yang seterusnya masuk ke Sungai Kedang Pahu.

“Orang (warga) Kampung Lotaq juga mengeluh, karena terdekat di aliran Sungai Lawa. Dari dulu orang Penarung gunakan air sungai itu untuk minum, bisa memasak, tapi sekarang mereka beli,” tegasnya.

Eman berharap, dugaan aktivitas penambangan yang tidak sesuai prosedur ini dapat ditelusuri oleh pihak terkait. Termasuk pemerintah daerah, agar keluhan warga tidak berkepanjangan. Sebab penyelesaian dugaan pencemaran lingkungan itu tidak kunjung menemui titik terang.

Comments

comments

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here